Minggu, 23 Desember 2012

STRATIFIKASI SOSIAL DAN HUBUNGAN ANTARKELOMPOK DALAM PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
   A.     Latar Belakang Masalah
Pendidikan di Indonesia merupakan  pendidikan yang majemuk seperti halnya bangsa/penduduknya sendiri, penduduk Indonesia beraneka ragam suku, ras dan agama yang membuat pendidikannya menjadi bervariasi. Majemuk dan bervariasi di sini bukan berarti kurikulumnya yang bervariasi, akan tetapi bervariasi
dan majemuk di sini adalah dari segi sosial dan interaksi pelaku pendidikannya, seperti pendidik, peserta didik, tenaga kependidikan, dan lain sebagainya yang notabene berbeda-beda latar belakang.
Hal ini pada akhirnya memunculkan sebuah interaksi sosial yang cenderung berkelompok mencari anggota/teman yang sepadan. Sehingga berujung pada proses stratifikasi sosial yang dalam hal ini adalah lingkungan sekolah mengarah kepada hal-hal negatif dengan adanya prasangka, rasisme, sukuisme  dan hal negatif lainnya. Manakala hal ini tidak tertangani dengan adanya pendidikan, dikhawatirkan hal ini akan membentuk kepribadian negatif yang merata dan akan membentuk koloni/golongan yang sinis terhadap golongan yang lain ataupun hubungan antar-golongan yang tidak serasi dan harmonis.
Lalu, apa saja sebenarnya yang perlu dikuak dari proses stratifikasi dan hubungan antar-kelompok yang telah berlangsung sekian lama di Indonesia ini khususnya? Dari sini pemakalah mencoba menyusun materi ini untuk menelisik apa sebenarnya stratifikasi sosial dalam hal pendidikan maupun hubungan antar-golongan yang terbentuk di dalam interaksi yang ada pada pendidikan itu sendiri.
B.      Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahasa dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:


1.      Apa yang dimaksud dengan stratifikasi sosial?
2.      Bagaimana proses terbentuknya stratifikasi sosial, khususnya dalam lingkup pendidikan?
3.      Hal apa yang menjadi solusi akan adanya stratifikasi sosial?
4.      Apa saja yang muncul dari adanya hubungan antar-kelompok?
5.      Solusi apa yang bisa diusahakan dalam menanganinya?


BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Stratifikasi Sosial
Dalam tiap masyarakat orang menggolongkan masing-masing dalam berbagai kategori, dari lapisan yang paling atas sampai yang paling bawah, dengan demikian terjadi stratifikasi sosial.[1] Ada beberapa definisi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam mendefisinikan stratifikasi sosial (Social Stratification), yaitu[2]:
1.      Menurut Mayor Polak; sejumlah orang yang sama statusnya menurut penilaian masyarakat dinamakan stratum“ (lapisan) dan penggolongan masyarakat menurut strata (kata jamak dari stratum).
2.      Menurut Patirim A. Sorokin; pembedaan sesuatu masyarakat (population) kedalam kelas-kelas secara hierarki (bertingkat).
Ada masyarakat yang mempunyai stratifikasi sosial yang sangat ketat. Seorang lahir dalam golongan tertentu dan ia tak mungkin meningkat ke golongan yang lebih tinggi. Keanggotaannya dalam suatu kategori merupakan faktor utama yang menentukan tinggi pendidikan yang dapat ditempuhnya, jabatan yang didudukinya, orang yang dikawininya dsb. Golongan yang ketat ini biasanya disebut dengan kasta.
B.      Cara-cara Menentukan Golongan Sosial
Adanya golongan sosial timbul karena adanya perbadaan status dikalangan anggota masyarakat. Untuk menentukan stratifikasi social dapat diikuti 3 metode yakni:
a)      Metode obyektif
Stratifikasi ditentukan berdasarkan kriteria obyektif antara lain jumlah pendapatan, lama atau tinggi pendidikan, jenis pekerjaan.
b)      Metode subyektif
Golongan sosial anggota masyarakat menilai dirinya dalam hierarki kedudukan dalam masyarakat itu.
c)       Metode reputasi
Golongan sosial dirumuskan menurut bagaimana  anggota masyarakat menempatkan masing-masing dalam stratifikasi masyarakat itu.
C.      Solusi Adanya Stratifikasi Sosial
1)      Golongan Sosial sebagai Lingkungan Sosial
Golongan sosial sangat menentukan lingkungan sosial seseorang. Pengetahuan, kebutuhan dan tujuan, sikap dan watak seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Sistem golongan sosial menimbulkan batas-batas dan rintangan ekonomi, cultural dan sosial yang mencegah pergaulan dengan golongan- golongan lain. Manusia mempelajari kebudayaannya dari orang lain dalam golongan itu yang telah memiliki kebudayaan. Maka orang dalam golongan sosial tertentu akan menjadi orang yang sesuai dengan kebudayaan dalam golongan itu dan dengan sendiri mengalami kesulitan untuk memasuki lingkungan sosial lain[3].
2)      Tingkat Pendidikan Dan Tingkat Golongan Sosial
Dalam berbagai studi tingkat pendidikan tertinggi yang diperoleh seseorang digunakan sebagai indeks kedudukan sosialnya. Menurut penelitian memang terdapat korelasi yag tinggi antara kedudukan sosial seseorang dengan tingkat pendidikan yang telah ditempuhnya. Korelasi antara pendidikan dan golongan sosial antara lain terjadi oleh sebab anak golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan pelajarannya sampai perguruan tinggi. Orang yang termasuk golongan sosial atas beraspirasi agar anaknya menyelesaikan pendidikan tinggi. Perbedaan sumber pendapatan juga mempengaruhi harapan orang tua tentang pendidikan anaknya. Sudah selayaknya orang tua yang berada, mengharapkan agar anaknya kelak memasuki perguruan tinggi. Soalnya hanya universitas mana dan jurusan apa disamping tentunya kemampuan dan kemauan anak. Sebaliknya, orang tua yang tidak mampu tidak akan mengharapkan pendidikan yang demikian tinggi, cukuplah bila anak itu menyelesaikan SD paling-paling SMP.
Faktor lain yang menghambat anak-anak golongan rendah memasuki perguruan tinggi adalah kurangnya perhatian akan pendidikan di kalangan orang tua. Banyak anak-anak golongan ini yang berhasrat untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi akan tetapi dihalangi oleh ketiadaan biaya. Banyak pula anak-anak yang putus sekolah karena alasan finansial. Pendidikan memerlukan uang, tidak hanya untuk uang sekolah akan tetapi juga untuk pakaian, buku dll.
3)      Golongan Sosial dan Jenis Pendidikan
Pendidikan menengah pada dasarnya diadakan sebagai persiapan untuk pendidikan tinggi. Karena biaya pendidikan  perguruan tinggi pada umumnya mahal sehingga tidak semua orang tua mampu membiayai studi anaknya. Pada umumnya, anak-anak yang orang tuanya mampu, akan memilih sekolah menengah umum sebagai persiapan untuk studi di universitas.
Orang tua yang mengetahui batas kemampuan keuangannya akan cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya, sebaliknya, anak-anak orang kaya tidak tertarik oleh sekolah kejuruan. Dapat diduga bahwa sekolah kejuruan akan lebih banyak mempunyai murid dari golongan rendah daripada yang berasal dari golongan atas. Karena itu dapat timbul pendapat bahwa sekolah menengah umum mempunyai status yang lebih tinggi daripada sekolah kejuruan.[4]
Demikian pula, mata pelajaran yang berkaitan dengan perguruan tinggi mempunyai status yang lebih tinggi pula, misalnya matematika dan fisika dipandang lebih tinggi daripada olahraga, PKK atau tata buku.
4)      Bakat dan Golongan Sosial
Ada pendapat bahwa anak golongan rendah pada umumnya kurang sanggup mengikuti pelajaran akademis ditingkat sekolah menengah. Penelitian tentang angka-angka murid menunjukkan bahwa angka-angka yang tinggi lebih banyak diperoleh murid-murid dari golongan sosial yang tinggi. Semula, orang menganggap bahwa tes IQ sungguh mengungkapkan bakat sebagai pembawaan yang konstan selama hidup. Ternyata bahwa IQ anak kembar yang identik yang dididik dalam lingkungan berlainan kemudian menunjukkan perbedaan dalam IQ-nya. Hal ini berarti, IQ seseorang dapat berubah dipengaruhi oleh lingkungan.
5)      Mobilitas Sosial Melalui Pendidikan
Pendidikan dipandang sebagai jalan untuk mencapai kedudukan yang lebih baik dalam masyarakat. Makin tinggi pendidikan yang diperoleh makin besar harapan untuk mencapai tujuan itu. Dengan demikian, terbuka kesempatan untuk meningkat ke golongan sosial yang lebih tinggi. Pendidikan dilihat sebagai kesempatan untuk beralih dari golongan satu ke golongan yang lebih tinggi, dikatakan bahwa pendidikan merupakan jalan bagi mobilitas sosial.
Kini pendidikan tinggi dianggap suatu syarat bagi mobilitas sosial. Bagi lulusan perguruan tinggi pun, kini sudah bertambah sukar utuk memperoleh kedudukan yang baik. Di samping ijazah perguruan tinggi, ada lagi faktor-faktor lain yang membawa seseorang pada perguruan tinggi. Dapat kita pahami, bahwa anak-anak golongan rendah lebih sukar mendapat kedudukan yang tinggi.
Guru-guru dapat mempengaruhi individu untuk mencapai kemajuan, bila mereka mendorong anak untuk belajar agar mencapai prestasi yang tinggi. Guru itu sendiri dapat menjadi model mobilitas sosial berkat usahanya belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh,  sehingga kedudukannya meningkat. Sebaliknya, guru dapat menghalangi mobilitas sosial bila ia memandang rendah terhadap anak-anak dari golongan rendah dan tidak yakin akan kemampuan mereka.
D.     Pendidikan dan Hubungan Antar Kelompok
1)      Prasangka dalam Hubungan Antar Kelompok
Bermacam-macam teori yang telah dikemukakan bahwa prasangka adalah sebagai sesuatu yang wajar yang sendirinya timbul bila terjadi hubungan antara dua kelompok yang berlainan. Manusia sadar akan kesamaan dalam kalangannya sendiri dan merasa solider dengan kelompok itu.
a.      Prasangka sebagai sesuatu yang dipelajari
Teori ini memandang bahwa prasangka sebagai hasil proses belajar seperti halnya dengan sikap-sikap lain yang terdapat pada manusia seperti sikap senang atau tidak senangnya terhadap golongan lain adalah hasil pengalaman pribadi yang  berlangsung lama atau berdasarkan pengalaman yang traumatis.
Jadi prasangka tidak selalu timbul berkat pengalaman pribadi akan tetapi sering atas pengaruh sikap yang pada umumnya terdapat dalam lingkungan, khususnya di rumah dan di sekolah.
b.      Prasangka sebagai alat mencapai tujuan praktis
Golongan yang dominan ingin menyingkirkan golongan minoritas dari dunia persaingan. Sikap itu terdapat dikalangan penjajah terhadap bangsa yang dijajah agar dapat dieksploitasinya.
c.       Prasangka sebagai aspek pribadi
Menurut penelitian Murphy dan Likert ada dua orang yang mempunyai pribadi yang berprasangka. Orang yang pribadinya berprasangka menaruh prasangka terhadap berbagai hal. Maka kepribadian merupakan suatu faktor penting bila kita ingin memahami hakikat dan perkembangan prasangka.
d.      Pendekatan multi dimensional
Dalam berbagai faktor yang dapat menimbulkan prasangka dapat diambil kesimpulan bahwa untuk memahami prasangka harus kita gunakan pendekatan yang multi dimensional. Prasangka dalam hubungan antar- kelompok perlu kita ketahui bahwa prasangka bukanlah suatu instink yang dibawa lahir, melainkan sesuatu yang dipelajari. Karena prasangka itu dapat dipelajari maka prasangka itu dapat diubah atau dikurangi bahkan dapat dicegah.
2)      Pendidikan umum dan hubungan antar kelompok
Menurut penelitian, makin tinggi pendidikan seseorang makin kurang prasangkanya terhadap golongan lain, makin toleran sikapnya terhadap golongan minoritas. Mereka yang berpendidikan universitas ternyata menunjukkan sikap yang paling toleran. Namun, ada tidaknya prasangka tidak semata-mata ditentukan oleh pendidikan saja. Pendidikan dapat merupakan faktor yang menentukan kedudukan, rasa harga diri, rasa ketentraman hidup yang turut menentukan prasangka. Ada kemungkinan mengurangi, tetapi dapat pula memperkuat prasangka.[5]
3)      Struktur hubungan antar kelompok di sekolah
Sekolah biasanya terlampau memusatkan perhatian kepada pendidikan akademis, salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah memupuk hubungan sosial dikalangan murid-murid. Program pendidikan antar-murid, antar golongan ini bergantung pada struktur sosial murid-murid. Ada tidaknya golongan minoritas dikalangan mereka mempengaruhi hubungan antar kelompok itu.
Murid-murid di sekolah kita juga sering menunjukkan perbedaan tentang asal kebangsaan, kesukuan, agama, adat istiadat, dan kedudukan sosial. Berdasarkan perbedaan-perbedaan itu, mungkin timbul golongan minoritas di kalangan murid-murid yang tersembunyi ataupun yang nyata.
Guru-guru hendaknya memperhatikan struktur golongan-golongan dikalangan murid-muridnya. Apakah anak-anak yang berasal dari daerah tertentu, yang berasal dari keturunan asing atau yang berlainan agama diperlakukan dengan cara yang tak wajar oleh teman-temannya atau disingkirkan dari kegiatan tertentu. Dengan perlakuan yang demikian anak-anak yang didiskriminasikan akan merasa dirinya asing dan tak diterima sebagai anggota penuh dari masyarakat sekolahnya.
E.      Usaha-Usaha Memperbaiki Hubungan Antarkelompok di Sekolah
Tiap sekolah perlu memperhatikan hubungan antar-murid dan antar-kelompok, terlebih jika terdapat golongan minoritas. Berbagai usaha dapat dijalankan untuk memperbaiki hubungan antar-kelompok, walaupun kekuasaan sekolah sangat terbatas.
Oleh sebab sekolah terbatas kemampuannya untuk mengubah situasi sosial sekolah, dapat menggugah nilai-nilai dan sikap anak-anak secara individual, rasa keadilan, rasa keagamaan yang mengemukakan kesamaan manusia di hadapan Tuhan. Cara ini dapat dilakukan melalui pemberian informasi diskusi kelompok, hubungan pribadi dan sebagainya.
Kebanyakan usaha dalam perbaikan hubungan antar-kelompok mengandung unsur penggugahan nilai dan sikap, oleh sebab itu sekolah tidak mampu mengubah keadaan sosial dan prasangka dalam masyarakat.
Di tengah pendidikan yang dikonsep saebagai arena perjuangan antar kelas/strata sosial maka pendidikan harus bisa diubah menjadi kekuatan yang bisa membebaskan diri dari operasi kelas dominan. Perjuangan ini dimulai dengan pemberian penyadaran terhadap siswa dan seluruh praktisi pendidikan. Mereka harus memiliki self-awareness dan kesadaran kelas. Intervensi ke sekolah harus dilakukan, hal ini dimaksudkan untuk mengubah karakter sekolah/pendidikan.[6]
4)      Efektivitas pendidikan antar golongan
Usaha-usaha perbaikan hubungan antar keolmpok didasarkan atas anggapan sebagai berikut:
a.      Prasangka disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.
b.      Pengalaman di sekolah dapat mengubah kelakuannya di luar sekolah dan situasi-situasi lain.
c.       Hubungan pribadi dengan anggota kelompok lain akan mengurangi prasangka.
5)      Efektivitas pendidikan
Sekolah merupakan lembaga yang efektif untuk mengurangi prasangka tidak dapat didukung dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Efektifitas program khusus tentang hubungan antar-kelompok tidak mudah dinilai. Kebanyakan program itu corak pemberian informasi yang kemudian diuji dengan tes tertulis.[7]
Perlu kita sadari bahwa sekolah hanya salah satu dari sejumlah daya-daya sosial yang mempengaruhi hubungan antar-golongan. Sekolah tak mampu mengubah masyarakat. Untuk menghilangkan prasangka terhadap golongan lain, seluruh masyarakat harus turut serta termasuk pemerintah dan guru-guru harus menjadi model pribadi yang toleran dalam ucapan maupun perbuatannya.
6)      Dasar-dasar bagi pendidikan antar golongan
Program-program tentang hubungan antar-golongan dapat dilakukan menurut pola pelajaran yakni dengan menyampaikan informasi seperti pelajaran sejarah, geografi, dan lain lain. Prasangka dapat pula menjadi aspek kebudayaan yang diperoleh melalui proses sosialisasi, melalui situasi yang dihadapi anak dalam hidupnya. Sekolah dapat memberikan pelajaran agar anak tidak berprasangka, namun apakah akan terjadi transfer ke dalam situasi-situasi lain di luar sekolah menjadi pertanyaan, karena kelakuannya akan bertentangan dengan yang lazim dilihatnya dalam masyarakat.


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dalam kaitannya dengan sosiologi pendidikan, tak jarang berhubungan dengan stratifikasi sosial dan hubungan antar kelompok.
a)      Pendidikan dan Stratifikasi Sosial
1.      Menurut Mayor Polak; sejumlah orang yang sama statusnya menurut penilaian masyarakat dinamakan“ stratum“ (lapisan) dan penggolongan masyarakat menurut strata (kata jamak dari stratum).
2.      Menurut Patirim A. Sorokin; pembedaan sesuatu masyarakat (population) kedalam kelas-kelas secara hierarki (bertingkat).
b)      Menentukan Golongan Sosial
1.      Objektif
2.      Subjektif
3.      Reputasi
c)      Solusi adanya Stratifikasi Sosial
1.      Golongan sosial sebagai lingkungan sosial
2.      Tingkat Pendidikan dan Tingkat Golongan Sosial
3.      Golongan Sosial dan Jenis Pendidikan
4.      Bakat dan Golongan Sosial
5.      Mobilitas Sosial melalui Pendidikan
d)      Pendidikan dan Hubungan Antar Kelompok
1.      Prasangka dalam hubungan antar kelompok
2.      Pendidikan umum dan hubungan antar kelompok
3.      Struktur dan hubungan antar kelompok di Sekolah
e)      Usaha-usaha memperbaiki hubungan antar kelompok di sekolah
1.      Efektifitas pendidikan antar golongan
2.      Efektifitas pendidikan
3.      Dasar-dasar bagi pendidikan antar kelompok

DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan suatu analisis sosiologi tentang pelbagai problem pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Maliki, Zainuddin. 2008. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: GaMa University Press.
Nasution S. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


[1] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. Cet.3 2004) hal: 26
[2] ary h. Gunawan, sosiologi pendidikan suatu analisis sosiologi tentang berbagai problem pendidikan (jakarta: rineka cipta. 2000) hal: 38
[3] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. Cet.3 2004) hal: 29
[4] Ibid., hlm. 31.
[5] Ibid., hlm. 50.
[6] Zainuddin Maliki. Sosiologi Pendidikan. (Yogyakarta: GaMa University Press. 2008). Hal: 173
[7] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara. Cet.3 2004) hal: 56

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar